Tinggalkan komentar

Revitalisasi Missi Suci Para Rasul Allah

PERINGATAN MAULID:

REVITALISASI MISSI SUCI PARA NABI

Ahmad Samantho Al-Husaini

Memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAAW, Manusia Suci Tonggak Sejarah Kemanusiaan, hanya akan menjadi ritual yang miskin makna, apabila hanya menjadi tradisi ritual rutin sebagaimana umumnya yang telah terjadi sekian lama di Indonesia.

51-6.jpg

Sekian lama bangsa Indonesia yang mayoritas Muslim memperingati Maulid Nabi. Di setiap peloksok kampung, kota, dan ibu kota provinsi dan bahkan sampai di istana negara. Namun mengapa kini seolah tak berbekas ajaran nabi Muhammad SAW yang niscaya membebaskan rakyat dari penindasan dan melawan kezaliman serta melakukan amar makruf dan nahyi mungkar. Mengapa korupsi masih meraja lela. Mengapa para koruptor bebas melenggang menikmati hasil korupsinya dan mengembangkan bisnis kotornya. Mengapa para tiran ekonomi kapitalis multinasional bebas menyedot dan menguras habis kekayaan sumberdaya alam negara kita, dengan perlindungan dan kolaborasi para penguasa pribumi, sambil membiarkan rakyat makin termiskinkan secara struktural dan kelaparan, penguasa negeri membiarkan rakyat terendam lumpur dan menderita di tempat-tempat pengungsian. Mengapa anak-anak negeri dibiarkan kesulitan mendapatkan pendidikan yang layak, karena sekolah makin mahal saja biayanya. Harga-harga kebutuhan pokok rakyat makin melambung tinggi mencekik leher. Sehingga mereka yang tak tahan dengan tekanan ekonomi rumah tangganya, akhirnya bunuh diri dan membunuh anak-anaknya. Sarana transportasi umum makin mengancam keselamatan nyawa para penggunanya. Sementara rakyat miskin berdesak-desakan menyambung nyawa di KRL, bak ikan asin ditumpuk di keranjang, kaum elit kaya di kota-kota besar pamer kekayaan dengan konvoi motor mewah Harley Davidson dan konvoi mobil-mobil mewah Ferari, dll. Sungguh menyakitkan menyaksikan pemandangan luka ketidakadilan sosial yang makin mengangga dalam tubuh bangsa Indonesia.

Mengapa para elit politik tidak lagi menjalankan kekuasaan dengan mengutamakan asas kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan-perwakilan, berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia serta Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia? Mengapa nilai-nilai luhur Pancasila yang merupakan saripati ajaran dan Missi Suci para Nabi sepanjang zaman diabaikan dan dilecehkan oleh para elit politik dan para penguasa negeri?

Mari renungkanlah bencana demi bencana yang telah menimpa bangsa kita, di daratan lautan dan udara:

{ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ}(الروم/41).

“Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan, karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS Ar-Ruum, 30: 41)

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنْ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُون (الأعراف/96).

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”

(QS Al-“Araf,7: 96)

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لاَ تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (الأنفال/25).

“Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.”

(QS Al-Anfaal, 8: 25)

Rentetan bencana dan siksaan yang tak henti-hentinya menimpa kita saat ini, mungkin saja karena sebagian besar di antara kita membiarkan kezaliman dan ketidakadilan sosial tetap terjadi dengan leluasa. Sebagian besar dari kita tidak peduli lagi untuk memperbaiki keadaan negeri ini. Tak ada semangat massal lagi yang sungguh-sungguh untuk melawan para koruptor dan memberangus korupsi. Tak ada gerakan rakyat yang signifikan untuk melawan penindasan para kapitalis-birokrat yang merampas dan menyalahgunakan harta kekayaan negara sehingga menyengsarakan rakyat banyak.

Maka perlu ada terobosan revolusioner dalam mengungkap kembali dan menghidupkan lagi ruh perjuangan dan missi suci para Nabi Allah sepanjang Zaman. Artikel ini berusaha menangkap makna sejati Peringatan Maulid Nabi, tidak hanya sekedar peringatan tradisional, tapi berusaha meraih hikmah dan menghidupkan Missi Suci ajaran Allah SWT dan Rasul-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُون (الأنفال/24).

“Hai orang-orang beriman, kabulkanlah ajakan Allah dan Rasul-Nya, ketika kamu diajak kepada sesuatu yang akan menghidupkan kalian….” (QS Al-Anfaal, 8:24)

Nabi Muhammad SAAW adalah pemuncak dan penyempurna missi suci para Nabi Allah. Ajaran yang dibawa dan diperjuangkan Muhammad Rasulullah tidak lepas dari ajaran dan missi Suci para Nabi sebelumnya, yaitu: membebaskan umat manusia dari belenggu penjajahan para tiran, menegakkan keadilan dan menjunjung tinggi nilai-nilai moral kemanusiaan dan akhlak mulia: memerintahkan berbuat kebaikan dan mencegah perbuatan buruk dan kemungkaran (QS Al-A’raf 7: 157).

Nabi Ibrahim AS berjuang melawan kediktatoran rezim Namrud sang tiran (QS 2: 158). Perjuangan Nabi Musa melawan kezaliman Fir’aun yang memperbudak Bani Israil, Ia lawan orang-orang kaya yang menumpuk kekayaannya melalui darah dan keringat penderitaan kaum miskin; berlanjut pada perjuangan Nabi Isa al-Masih (Yesus) ketika ia dengan ketulusan hati bersama para sahabat setianya berjuang melawan kezaliman imperium romawi yang menindas rakyat.

Begitu pula Nabi Muhammad SAAW, ia mengajarkan nilai-nilai Tauhid. Ia mengajari umat manusia bahwa yang patut dan layak ditaati sepenuh hati dan disembah hanyalah Allah SWT. Tidak boleh ada perbudakan dan penindasan terhadap sesama manusia. Ia secara revolusioner menanamkan ideologi dan teologi pembebasan. Ia lawan keangkuhan dan kezaliman para aristokrat Arab. Ia bela kaum miskin dan teraniaya dengan penuh kecintaan. Ia perangi ketidakadilan rasial dan feodalisme Arab jahiliyah. Ia lindungi dan santuni fakir miskin, anak yatim dan para manusia lanjut usia.

Dengarlah Ia menyampaikan firman-firman Tuhan:

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tahukan kamu orang-orang yang mendustakan agama? Itulah orang-orang yang menyia-nyiakan anak yatim, dan tidak berusaha memberi makan kepada orang-orang miskin. Celakalah (orang-orang kaya) yang salat, yang melalaikan (makna hikmah dan ajaran) salat (yang sebenarnya), Yang (salatnya itu hanya untuk) pamer (kesalehan) saja. Dan tidak mau memberikan pertolongan.” (QS Al-Ma’un).

“Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. (Hai orang-orang kaya), telah melalaikan kalian kerakusan untuk mengumpulkan kekayaan. Sampai kalian menjumpai kuburan. Janganlah begitu, waktu itulah kamu mendapatkan pengetahuan (akan akibat perbuatanmu itu). Janganlah kamu berbuat begitu, kelak kamu akan mengetahui, Janganlah kamu begitu, jika kamu mengetahuinya dengan pengetahuan yang meyakinkan, niscaya kamu akan benar-benar melihat neraka jahim, dan sesungguhnya kamu akan melihatnya dengan mata keyakinan, kemudian kamu akan dimintai pertanggungjawaban terhadap semua kenikmatan yang kamu banggakan (megah-megahkan) di dunia itu.” (QS At-Takaatsur).

Itulah Muhammad Rasulullah, sang penghibur dan juru selamat yang telah ditunggu ratusan tahun. Itulah Sang Penolong yang datang setelah penantian yang panjang. Itulah Roh Kebenaran yang diamanahkan Nabi Isa AS kepada umat manusia.

Selanjutnya berikut ini saya kutip uraian ustadz Jalaluddin Rakhmat:

Para tiran murka. Kelompok penguasa yang dipimpin oleh Abu Sofyan dari Bani Umayyah berusaha untuk menahan dakwah Rasulullah SAAW. Mereka menyebarkan fitnah yang menjatuhkan kemuliaan Nabi Muhammad. Mereka memboikot keluarga Nabi dan mengasingkannya ke lembah yang gersang. Akhirnya mereka mengusir Nabi ke Madinah.

Setelah berjuang menghadapi lebih dari 80 kali peperangan, orang yang terusir dari kampung halamannya itu berhasil menaklukkan para penentangnya. Lihat Manusia agung itu berdiri di tengah-tengah lembah Arafah, di kaki Jabal Rahmah. Pada hari Jum’at, bakda Zuhur, tahun 10 Hijriah. Ia memandang dengan tatapan mata kasih kepada ratusan ribu jemaah hajinya yang pertama. Di hadapannya bersimpuh lautan manusia yang tertunduk khusyuk seakan burung-burung bertengger di atas kepala mereka. Manusia besar itu ingin agar Tuhan menyaksikan keberhasilan missinya. Sebelum sampai ke lembah Arafah, ia sudah kehilangan istri tercintanya. Ia sudah kehilangan ayah angkatnya. Ia sudah kehilangan karib kerabatnya, sahabat-sahabatnya, dan banyak orang yang mencintainya. Ia telah mengorbankan keringat, air mata dan darah untuk melaksanakan tugas sucinya. Ia memandangi ratusan ribu manusia yang tidak bergerak di hadapan kebesarannya. Mungkin air matanya menggelegak di pelupuk matanya. Dengarkanlah suaranya yang lembut tapi lantang bergaung di Arafah:

“Wahai umat manusia, simaklah perkataanku. Sungguh aku tidak tahu apakah aku akan berjumpa lagi dengan kalian setelah ini selama-lamanya.” Ia berhenti sejenak. Ia menatap jauh-jauh kepada lautan manusia yang tak bergeming. Kalimatnya yang terakhir menyedarkan mereka bahwa Sang Junjungan yang sangat mereka cintai itu akan menyampaikan wasiat terakhirnya. Mereka tersentak. Mereka mendengar Nabi SAAW bertanya:

“Ayyu yaumikum hadza, Hari apakah hari ini?”

“Yaumul Haram, hari yang suci!”

“Ayyu syahrikum hadza?, Bulan apakah bulan ini?” “Syahrul Haram, Bulan yang suci!”

“Ayyu baladikum hadza?, Negri apakah negeri ini” “Balaldil haram!, negeri yang suci.”

“Ketahuilah, darah, kehormatan, dan harta semua manusia suci seperti sucinya hari ini, bulan ini, dan negeri ini. Tidak boleh darahnya ditumpahkan. Tidak boleh kehormatannya dijatuhkan, Tidak boleh hartanya dihancurkan.”

Inilah pernyataan Hak-hak Azasi Manusia ia ingin agar umatnya melanjutkan missi sucinya: menghentikan semua kezaliman di atas bumi ini. Menghentikan pertumpahan darah, penodaan kehormatan dan perampasan kekayaan. Semua manusia, apapun agamanya, apapun status sosial-ekonominya, apapun bangsanya, harus dibebaskan dari kezaliman. Inilah missinya. Inilah juga missi para Nabi sebelumnya Inilah juga missi yang ingin diwariskannya kepada kaum Muslimin sesudahnya.

“Akan aku sampaikan kepada kalian siapa yang disebut Muslim, Mukmin, Muhajir dan Mujahid. Muslim adalah orang yang tidak mengganggu orang lain dengan lidah dan tangannya. Mukmin ialah orang yang menjaga jiwa dan harta orang lain. Muhajir adalah orang yang menjauhi keburukan akhlak. Mujahid adalah orang yang terus berjuang melawan hawa nafsunya dalam mentaati Allah SWT.”

Rasul yang mulia sejenak berhenti, kemudian ia berkata:

“Wahai manusia, akau sudah tinggalkan kepada kalian, yang jika kalian berpegang teguh kepadanya, kalian tidak akan tersesat selama-lamanya: Kitab Allah dan keluargaku Ahli Baitku.”

Kutbah ini tercatat dalam sejarah sebagai kutbah Haji Akbar. Ia menyampaikannya pada waktu wukuf di Arafah yang jatuh pada hari Jum’at. Kutbah ini juga disebut sebagai Khutbah Wada’, karena disampaikan nabi pada haji Wada. Dahulu Yesus dalam kutbah perpisahannya menyampaikan kepada umatnya tentang kedatangan Sang Penghibur yang akan melanjutkan missinya. Kini Muhammad bin Abdullah, dalam kutbah wada’nya memperingatkan umatnya untuk mengikuti Ahlul Bayt yang akan datang untuk melanjutkan missi sucinya.

Kalau Nabi Isa As memberikan kabar gembira tentang Ahmad yang datang sesudahnya, siapakah yang dijanjikan Rasul Allah SAAW untuk menjadi pelanjutnya. Ketika pulang dari haji Wada’ Rasulullah SAAW mengumpulkan ribuan sahabatnya di sebuah jalan simpang di tengah padang pasir yang terik. Pelana-pelana unta dan kuda ditumpuk sebagai mimbar. Seperti Kristus di hadapan para sahabat-sahabatnya, ia memulai khutbahnya sekali lagi dengan ucapan perpisahan: “Sebentar lagi aku dipanggil Tuhan dan aku harus memenuhi panggilan itu. Aku tidak bakal berjumpa lagi dengan kalian setelah tahun ini. Aku tinggalkan bagi kalian dua pusaka yang berat: Al-Qur’an dan keluargaku, Ahli Baitku. Perhatikanlah bagaimana kamu menjaga keduanya. Keduanya tidak akan berpisah sehingga keduanya datang kepadaku di telaga Haudh pada hari akhir nanti. Allah adalah mawlaku (pemimpinku), dan aku adalah pemimpimpin setiap mukminin dan mukminat.”

Kemudian ia mengangkat tangan Ali dan berkata: “Man Kuntu mawlah fa Hadza ‘Aliyun mawlah.” Siapa yang menerima aku sebagai pemimpinnya maka jadikanlah ‘Ali sebagai pemimpinnya juga.” Kemudian Rasulullah melingkarkan serbannya di kepala ‘Ali. Ia mengamanahkan wilayah (kepemimpinan Islam) kepadanya. Ia menitipkan kelanjutan perjuangan untuk menegakkan keadilan kepada ‘Ali bin Abi Thalib –suami Fatimah az-Zahra.

Tidak lama setelah Rasulullah sampai di Madinah, ia menderita sakit keras. Dengan disaksikan oleh Fatimah, putrinya yang tercinta dan hasan dan Husain, kedua cucunya, Nabi Sang Penghibur itu menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Sepeninggal Muhammad Rasulullah SAW, sebagian umat Islam kembali dikuasai dan dikendalikan oleh para aristrokat jahiliyah lama, yang kini berbusana kesalehan ritual dan jubah Islam, sekedar untuk menutupi kezalimannya. Agama Islam yang sejati, ternodai penyimpangan ajaran untuk mengelabui umat dan menjustifikasi kekuasaan yang bobrok.

Tragedi Karbala 10 Muharram menjadi luka paling mengenaskan dalam sejarah Islam. Imam Husain, cucunda Rasulullah SAAW, pemimpin umat dari Ahlul Bait Nabi, beserta para keluarga dan sahabat setianya, mati syahid terbantai di padang karbala. Imam Husain dibunuh penguasa hanya karena ia ingin mengembalikan lagi missi agama kakeknya Muhammad SAAW, yakni: “melepaskan beban derita manusia dan belenggu yang memasung kebebasan mereka (QS Al-‘Araf, 7: 157).

Imam Husain melihat di zamannya bahwa agama Islam yang seharusnya mendatangkan rahmat bagi seluruh alam semesta diubah menjadi agama yang menyebarkan bencana. Atas nama agama, para tiran menumpahkan darah umat, menjatuhkan kehormatan, dan merampas harta kekayaan. Husain bangkit untuk menegakkan agama yang memihak orang-orang yang teraniaya – mengenyangkan orang yang lapar, mengobati yang sakit, menghibur yang menderita.

Missi Ahlul Bait Nabi mengajak umat Islam untuk melanjutkan missi Husaim, yang pasa gilirannya sebenarnya adalah melanjutkan missi para Nabi. Karena itu missi Husain adalah missi semua agama. Perjuangan Husain berbeda dengan perjuangan kaum Marxis, karena ia menentang penindasan bukan untuk pertentangan kelas. Ia memperjuangkan keadilan dan kemanusiaan yang adil dan beradab atas dasar Ketuhanan Yang Maha Esa. Ia kecewa dengan kekuasaan yang tidak lagi ditegakkan di atas hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan.

Kini kita melihat adanya gejala yang memprihatinkan dalam kehidupan berbangsa Indonesia. Apa yang terjadi pada zaman Imam Husain, kini tampak lagi di tengah-tengah kita. Agama telah digunakan untuk memecah belah kesatuan bangsa, merampas hak-hak rakyat dan menindas orang-orang yang lemah. Agama hanya diperalat untuk menjadi komoditi politik kekuasaan. Simbol-simbol suci agama dipakai sebagai topeng untuk menutupi ambisi kekuasan sekelompok oportunis gila kekuasaan dan alat memobilisasi dukungan public. Bahkan agama kini jadi sekedar lip service dan komoditi industri televisi dan media kapitalis.

Maka, saatnya kini pengikut setia Nabi Muhammad dan Ahlul Bait Nabi, bangkit bersaksi dan berjuang terus membela keadilan dan kebenaran.

(artikel ini pernah dimuat di Majalah Syiar, April 2007)

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Towards Emancipation

Freedom, ...our responsiblity.

Catatan Safari ANS

Terlambat Satu Detik Kerugian Satu Milyar

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.968 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: